Jumat, 02 November 2012

Laporan Pratikum Kimia Organik


Tanggal Praktikum                  : 11 Mei 2012
Tanggal Masuk Laporan         : 21 Mei 2012

I. Tujuan
Ø  Mengidentifikasi zat organik yang belum diketahui
Ø  Menentukan kemurnian suatu zat
Ø  Mengetahui jenis suatu zat
Ø  Mengidentifikasi dan membedakan senyawa alkana dan alkena
Ø  Mengidentifikasi dan membedakan senyawa aldehid dengan keton
Ø  Mengidentifikasi Alkohol
      II. Prinsip
Melakukan analisa kualitatif untuk mengidentifikasi zat organik yang belum diketahui dengan melihat dan menentukan sifat – sifat fisik zat, analisa elementer / tes kualitatif unsur, kelarutan, dan identifikasi gugus fungsional.
III. Dasar Teori
Analisa kualitatif digunakan untuk mengidentifikasi zat organik yang belum diketahui. Sistematika dalam menganalisa secara kualitatif suatu senyawa organik meliputi beberapa langkah, diantaranya :
Ø  Melihat dan menentukan sifat – sifat fisik zat.
Ø  Analisa elementer / tes kualitatif unsur.
Ø  Kelarutan.
Ø  Identifikasi gugus fungsional.


Sifat Fisika
Sifat fisika biasanya digunakan untuk menentukan kemurnian suatu zat atau untuk mengetahui jenis zat dalam analisa kualitatif. Sifat fisika yang sering ditentukan diantaranya titik didih dan indeks bias untuk zat cair serta titik leleh dan bentuk kristal untuk zat padat.
 Titik leleh suatu zat adalah suhu dimana terjadi keadaan seimbang antara fasa padat dengan fasa cair. Titik didih suatu zat adalah suhu dimana tekanan uap zat cair sama dengan tekanan luar di atas permukaan zat cair tersebut. Indeks bias adalah bilangan yang menunjukan perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut bias cahaya yang melewati suatu media.
Tes Kualitatif Unsur
Tes Kualitatif Unsur bertujuan untuk menentukan unsur - unsur yang terdapat dalam suatu zat. unsur – unsur yang umumnya terdapat dalam zat organik dalam pelarut inert dan pelarut aktIf, secara kimia tergantung pada struktur molekulnya.
Gugus fungsi
Gugus fungsi adalah kedudukan kereaktifan kimia dalam molekul.
IV. Alat dan Bahan
*        Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain :
No.
Nama Alat
1.
Neraca analitik
2.
Spatula
3.
Pipet tetes
4.
Kaca arloji
5.
Gelas kimia
6.
Tabung reaksi
7.
Kaki tiga + kassa
8.
Pembakar spirtus
9.
Gelas ukur
10.
Thermometer





*      Bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain :
No.
Nama Bahan
1.
Asam lemak
2.
Khloroform
3.
Brom dalam CCl4 0,3 M
4.
n – butil alkohol
5.
KmnO4 0,1 M
6.
Aseton
7.
2,4-dinitrophenilhidrazin
8.
Formaldehida
9.
Fehling A
10.
Fehling B
11.
HNO3
12.
AgNO3 0,5 M
13.
NH4OH pekat
14.
Metanol
15.
Indikator universal
16.
Asam asetat glacial
17.
H2SO4 pekat
18.
Alkohol
19.
NaOH 1 N
20.
Iodium pekat
21.
Urea
22.
Phenilhidrazin
23.
NiSO4 10 %






V. Prosedur Praktikum
1.  ikatan Tak Jenuh
Dengan KMnO4
Larutkan 1 tetes atau 20 mg sampel ( asam lemak ) kedalam 0,5 mL n-butil alkohol, kemudian tambahkan KMnO4 0,1 M tetes demi tetes.
2. Gugus Karbonil ( C=O )
Dengan Pereaksi Fehling
·  Campurkan larutan Fehling A dan Fehling B, kemudian tambahkan zat sampel ( Aseton ) dengan perbandingan 1:1:1
·  Kocok campuran tersebut kemudian panaskan.
Dengan Pereaksi Formaldehid
·  Campurkan larutan Fehling A dan Fehling B, kemudian tambahkan zat sampel ( Aseton ) dengan perbandingan 1:1:1
·  Kocok campuran tersebut kemudian panaskan.
3. Gugus Alkohol ( OH )
Test Indikator
Campurkan 20 mg atau 1 tetes zat sampel ( methanol ) dengan 1 mL air. Periksa larutan dengan indikator universal dan tentukan pH-nya.
Dengan Pembuatan Ester
·         Masukkan 1 mL asam asetat glacial ke dalam tabung reaksi, kemudian tambahkan 2 mL zat sampel ( n-butil alkohol ) dan 2 tetes asam sulfat pekat.
·         Panaskan tabung reaksi, kemudian kocok dan amati perubahan yang terjadi serta aromanya.



Test Iodoform
Tambahkan 2 ml air, 2 tetes alkohol dan 8 tetes larutan NaOH 1 N kedalam tabung reaksi, lalu tambahkan tetes demi tetes larutan iodium pekat sampai terjadi endapan kuning. Masukkan thermometer kedalam cairan, hangatkan sampai 600 C selama beberapa menit, catat aroma yang tercium.

VI. Hasil Pengamatan
1.    Ikatan Tak Jenuh ( dengan KmnO4 )







asam lemak + n-butilalkohol + KMnO4 0,1 M

Reaksi  antara 1 tetes asam lemak + 0,5 n-butilalkohol + 1 tetes KMnO4 0,1 M menghasilkan larutan dengan 2 fasa yaitu fasa bawah merupakan endapan warna hitam dan fasa atas yaitu larutan berwarna coklat bening

2.      Gugus Karbonil ( C=O ) (dengan pereaksi Fehling )






Fehling A + Fehling B + Aseton
Reaksi  antara 2 tetes Fehling A + 2 tetes Fehling B + 2 tetes aseton menghasilkan perubahan warna larutan, larutan yang awalnya berwarna biru tua menjadi berwarna biru muda keruh.
2.      Gugus Karbonil ( C=O ) ( dengan pereaksi Formaldehid )










Fehling A + Fehling B + Formaldehid

Reaksi  antara 2 tetes Fehling A + 2 tetes Fehling B + 2 tetes Formaldehid  menghasilkantidak menghasilkan perubahan warna, warna  larutan tetap biru.
3.    Gugus Alkohol ( Test Indikator )








Methanol + Air
Reaksi  antara 1 tetes methanol + 1 mL air tidak menghasilkan perubahan warna apapun larutan tetap berwarna bening. Setelah larutan diperiksa dengan indikator universal diperoleh pH-nya = 7
4.    Gugus Alkohol ( dengan pembuatan ester )








asam aseta glacial + n-butilakohol + asam sulfat pekat

reaksi  antara 1 mL asam asetat glacial + 2 mL n-butilakohol + 2 tetes asam sulfat pekat menghasilkan larutan keruh yang berbau menyengat.
5.      Gugus Karbonil ( Test Iodoform )
Air + Alkohol + NaOH + Iodium


Setelah 2 mL air + 2 tetes Alkohol + 8 tetes larutan NaOH 1 N ditambahkan Iodium sebanyak 2 mL, larutan berubah menjadi keruh dan berwarna kekuningan dan terbentuk endapan berwarna hitam. Setelah dipanaskan sampai suhu 600 C beberapa menit, larutan tidak berubah warna, tetap bening kekuningan dan bergelembung serta menghasilkan bau betadin

VII. Pembahasan
Hidrokarbon merupakan senyawa yang  mengandung karbon dan hidrogen. Berdasarkan jenis ikatan karbon-karbonnya, hidrogen digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu:
a.      Hidrokarbon jenuh
b.      Hidrokarbn tak jenuh
c.      Hidrokarbon aromatik



*        Uji Ikatan Tak Jenuh
Hidrokarbon jenuh dikenal dengan alkana jika keadaannya ariklik dan disebut sikloalkana jika keadaannya siklik. Untuk membedakan senyawa alkana dan alkena dpt dilakukan uji kualitatif, yaitu dengan penambahan KMnO4.
Dengan adanya penambahan KMnO4, senyawa alkena akan bereaksi dengan KMnO4 dalam bentuk glikol (senyawa dengan 2 gugus hidroksil) bersebrangan dengan reaksi:
3 C = C + 2 KMnO4- + 4H2O → 3 – C – C − + 2MnO2 + 2K+OH-
                Alkena   (coklat)                                           (hitam)
Reaksi  antara 1 tetes asam lemak + 0,5 n-butilalkohol + 1 tetes KMnO4 0,1 M menghasilkan larutan dengan 2 fasa yaitu fasa bawah merupakan endapan warna hitam dan fasa atas yaitu larutan berwarna coklat bening
Saat reaksi berlangsung, warna coklat hitam dari Ion Permanganat akan berubah menjadi endapan hitam dari MnO2. Dengan adanya perubahan inilah, maka penambahan KmnO4 dapat digunakan untuk membedakan senyawa alkena dari alkana yang pada umumnya tidak bereaksi dengan KMnO4.
*        Uji Gugus Karbonil (C=O)
Uji kualitatif yang dilakukan untuk mengidentifikasi dan membedakan senyawa aldehid dengan keton sebagian besar didasarkan pada sifat dari senyawa aldehid yang lebih mudah untuk dioksidasi dibandingkan dengan senyawa keton. Untuk mengidentifikasi serta membedakan senyawa aldehid dan keton dapat dilakukan uji kualitatif:
1. Uji dengan Pereaksi Fehling
Sampel yang diuji. Test fehling tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi senyawa aldehid aromatis sebab stabilitas resonansi yang timbul dari ikatan antara gugus karbonil dan cincin benzena tidak dapat teroksidasi oleh larutan fehling. Tes fehling juga akan menunjukan  uji positif terhadap keberadaan asama formiat di dalam sampel yang di uji. Pemanasan pemanasan pada uji fehling dilakukan agar mempercepat reaksi yang berlangsung.
Saat  2 tetes Fehling A + B  dicampurkan dengan  2 tetes aseton melalui pemanasan menghasilkan perubahan warna larutan, larutan yang awalnya berwarna biru tua menjadi berwarna biru muda keruh.
2. uji dengan pereaksi Formaldehid
Saat 2 tetes Fehling A dan  Fehling B  dicampurkan dengan 2 tetes Formaldehid  tidak menghasilkan perubahan warna, warna  larutan tetap biru.
*         Gugus Alkohol
Alkohol memiiki rumus umum R-OH dan dicirikan dengan adanya gugus hidroksil (OH) struktur alkohol mirip dengan struktur air. hanya saja satu atom hidrogen pada air diganti dengan gugus alkil. Uji kualitatif yang dapat dilakukan untuk menidentifikasi alkohol antara lain :
1. Tes Indikator
Pada tes indikator dilakukan pencampuran antara methanol + air dan diuji pHnya dengan menggunakan pH meter, sehingga diperoleh hasilnya pH = 7.
2. Pembuatan Ester
Pada penambahan asetat glocial + n-butilalkohol larutan tidak berwarna setelah + Iodium pekat, larutan berubah menjadi keruh berwarna kekuningan dan menghasilkan  bau yang sangat menyengat dan bergelembung.
3. Tes Iodoform
Pada test Iodoform, dicampurkan Aquades + Alkohol + NaOH ditambahkan tetes demi tetes Iodium, yang dihasilkan adalah Warna Kuning Bening yang berasal dari Iodium, namun setelah pemanasan campuran tersebut langsung Beraroma Betadin, hal ini terjadi karena reaksi sebelum pemanasan belum sempurna sehingga tidak menghasilkan aroma, tetapi ketika dipanaskan reaksi tersebut sempurna dan menghasilkan aroma betadin dari campuran Iodium tersebut.
Tes Iodoform pada alkohol hanya dapat digunakan untuk mengidenifikasi etanol dan alkohol skunder (20) dengan gugus metil yang melekat secara langsung pada karbon pembawa gugus hidroksil (-OH). Uji positif dari tes iodoform untuk mengidentifikasi alkohol ini ditandai dengan terbentuknya endpan iodoform (CHl 3) yang berwarna kuning tetapi pada praktikum ini tidak dihasilkan endapan.






VIII. Kesimpulan   
v  Ikatan tak jenuh
Dengan KmnO4 menghasilkan 2 fasa, diatas larutan warna bening  coklat dan dibawah larutan berupa endapan hitam
v  Gugus Karbonil
Dengan pereaksi Fehling        
Sampel Aseton                        : larutan warna biru muda
Sampel Formaldehid               : larutan warna biru
v Gugus Alkohol
Test Indikator                          :  larutan tidak berwarna dan pH = 7
Pembuatan Ester                                 : menghasilkan larutan yang tidak berwarna dengan                     aroma yang sangat menyengat
Test Iodoform                         : larutan beraroma Betadine











Daftar Pustaka
Brandy, E. James. 1989. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara: Jakarta
Fessenden and Fessenden. 1986. Kimia Organik jilid I. Erlangga: Jakarta
Heart, Harold. 2003. Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat. Erlangga: Jakarta
http://www.chem-is-try.org/analisis-kualitatif-unsur-senyawa.html
Keenan, Charles. W dkk. 1992. Kimia untuk Universitas jilid 2. Erlangga: Jakarta
Sudarmadji, S., Haryono, B., SuShardi, 2007. Kimia organik. Penerbit Liberty: Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar