Jumat, 28 Desember 2012

Laporan Praktikum Biosistematik Hewan-Kelas Reptil


LAPORAN PRAKTIKUM BIOSISTEMATIK  HEWAN
Kelas Reptilia














                        NAMA                     :          Rifki Muhammad Iqbal
                        NIM                         :          1211702067
                        KELAS                     :          III B
KELOMPOK           :          2


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2012


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Hewan pertama yang benar-benar merupakan hewan daratan adalah reptilian. Mereka berkembang dari amphibian dalam zaman karbon. Dengan datangnya zaman permulaan, mereka lebih mampu mengatasi keadaan baru daripada amphibian. Kelebihan utama reptilia yang paling awal terhadap amphibian adalah perkembangan telur yang bercangkang dan berisi kuning telur. (Kimball, 1999).
Kelas reptilia suatu kelompok yang beraneka ragam dengan banyak garis keturunan yang sudah punah, saat ini diwakili oleh sekitar 7000 spesies, sebagian besar kadal, ular, penyu atau kura-kura dan buaya ini adalah pengelompokan tradisional dan didasarkan pada kemiripan semua tetrapoda tersebut. Reptilian memiliki beberapa adaptasi untuk kehidupan didarat yang umunya tidak ditemukan pada amphibian. Sisik yang mengandung protein keratin membuat kulit reptilia kedap air, sehingga membantu mencegah dehidrasi di udara kering. Dan masih banyak lagi cirri-ciri khusus dari kelas reptilia. (Campbell, 1999).


B.     Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah mengenal karakter-karakter morfologi dari kelas reptil.


  
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kelas reptilia dibagi dalam sub klas berdasarkan atas anatomi tengkoraknya. Berdasarkan ada tidaknya fosa temporalis dan posisinya di kenal 5 tipe tengkorak yaitu anapsip yaitu tipe tengkorak anapsid (Ordo chelonian), Euripsida tipe tengkorak euripsid, lhthyopterigea tipe tengkoraknya parapsid (semua punah), acrosaura tipe tengkorak diapsid (Ordocrocodila), sinapsida tipe tengkorak diapsid, lepidosauria tipe tengkorak diapsid (Ordo squamata) dan (Rhyncochepalia). (Kimball, 1999).
Reptilia merupakan sekelompok vertebrata yang menyeseuaikan diri ditempat yang kering di tanah. Penandukan  atau cornificatio kulit dan squama atau carpace untuk menjaga banyak hilangnya cairan dari tubuh pada tempat yang kering atau panas. Nama kelas ini diambil dari model cara hewan berjalan (Latin : reptum =  melata atau merayap) dan studi tentang reptilian di sebut Herpetology (jelata atau merayap) dan studi tentang reptilian di sebut Herpetology (Yunani :creptes = reptil). (Jasin, 2002).
 Reptilia memiliki ciri khusus, yaitu tubuhnya dibungkus oleh kulit yang menanduk (tidak licin) biasanya dengan sisik atau bercarapace; beberapa ada yang memiliki kelenjar permukaan kulit. Mempunyai dua pasang anggota, yang masing-masing 5 jari dengan kuku-kuku yang cocok untuk lari, mencengkram dan naik pohon. Pada yang masih hidup di air kakinya mempunyai bentuk dayung, dan pada ular bahkan tidak memilikinya. Skeletonnya mengalami penulangan secara sempurna; tempurung kepala mempunyai satu condylus occipitalis. Jantung tidak sempurna, terdiri atas 4 ruangan, dua auricular dan sebuah ventericulus (pada crocodalia menjadi dua tapi masih berlubang yang disebut foramen panizzae). Terdapat oval biconvex dan dengan nukleus. Pernapasannya selalu dengan paru-paru; pada penyu bernapas juga dengan kloaka, memiliki 12 nevri cranialis, fertilisasi terjadi di dalam tubuh, biasanya mempunyai alat kopulasi ; telur besar dengan banyak yolk, berselaput kulit lunak atau becangkok tipis. Telur biasanya diletakkan di suatu tempat dibiarkan menetas sendiri, tapi pada beberapa hewan misalnya kadal dan ular dierami oleh sang betina. (Jasin, 2002).
Secara eksternal, dalam hubungannya dengan skeleton, penyu berspesialisasi tinggi, namun secara internal berpola sederhana seperti nenek moyang mamalia. Tubuh terlindungi di antara karapaks dan plastron. Plastron itu terbagi-bagi transversal sehingga memudahkan bergerak, sedang karapaks kurang memungkinkan  pergerakan. Panjang tubuh kurang lebih 1 m, dengan berat kurang lebih 200 kg, kepala dengan leher, ekor dan kaki semuanya menonjolke luar di antara karapaks dan plastron. Dua lubang hidung di dekat ujung anterior kepala. Mata lateral, dengan kelopak mata atas dan bawah, mempunyai membrane niktitans. Tidak ada telinga luar. Membran timpani tertutup dengan selapis kulit. Pinggiran mulut terbentuk dari rahang berzat-bertanduk, tidak ada gigi. Kaki dengan 5 jari, yang dilengkapi dengan cakar. Lubang kloaka ventral pada dasar ekor. (Mukayat, 1989).
Tiga ordo reptilia hidup yang terbesar dan paling beraneka ragam adalah Chelonia (kura-kura), Squama (kadal dan ular), dan Crocodila (buaya dan alligator). Kura-kura berkembang selama zaman mezoikum dan hanya sedikit berbah sejak saat itu. Cangkangnya yang umumnya  keras suatu adaptasi yang melindungi dirinya dari predator. Kadal adalah reptilian yang paling banyak jumlahnya dan beraneka ragam yang hidu saat ini. Sebagian besar di antaranya berukuran relatf kecil. Mungkin mereka mampu bertahan hidup melewati bencana. Ular sebenarnya adalah keturunan kadal yang memakai gaya hidup bersarang dalam lubang. Saat ini, sebagian besar hidup di atas permukaan tanah. Buaya dan alligator merupakan sebagian dari reptilia hidup yang paling besar. Mereka menghabiskan sebagian hidupnya dalam air, dan menghirup udara melalui lubang hidungnya yang membuka ke atas. (Campbell, 1999).




BAB III
METODE PRAKTIKUM


A.    Alat dan Bahan
Alat
Bahan
Kaliper
Pinset
Spesimen Ular

Baki
Sarung Tangan (Gloves)
Alkohol 70 %

Penggaris


Jarum jara



Kaca Pembesar /Lup





B.     Prosedur Kerja
Spesimen Ular
Diamati bagian kepala, sisik,
Hasil Pengamatan dan Gambar
 











BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil Pengamatan
No
Bagian yang di amati
Gambar
Keterangan
1
Bentuk dan jenis gigi

Solenoglyph
2
Bentuk pupil

Pupil vertical
3
Bentuk rahang bawah/ dagu

Simetrical chin
4
Bentuk subcaudatal

( bawah ) undivided subcaudal
5
Bentuk dan komposisi sisik kepala


6
Posisi nostril

Nostril di bagian sisi tubuh

B.  Pembahasan
Reptilia merupakan kelompok hewan darat pertama yang sepanjang hidupnya bernafas dengan paru-paru. Ciri umum kelas ini yang membedakan dengan kelas yang lain adalah seluruh tubuhnya tertutup oleh kulit kering atau sisik. Kulit ini menutupi seluruh permukaan tubuhnya dan pada beberapa anggota ordo atau sub ordo tertentu mengalami pergantian kulit . Pergantian kulit secara total terjadi pada anggota sub-ordo ophidia dan pada anggota sub-ordo lacertilia pergantian kulit terjadi secara sebagian. Sedangkan pada ordo chelonia dan crocodilia sisiknya hampir tidak pernah mengalami pergantian atau pengelupasan. Kulit pada reptil memiliki sedikit sekali kelenjar kulit (Jasin, 1992).

Persamaan dan Perbedaan Ular dengan Kadal
Ular adalah reptil yang tak berkaki dan bertubuh panjang. Ular memiliki sisik seperti kadal dan sama-sama digolongkan ke dalam reptil bersisik (Squamata).
Persamaannya kadal dengan reptile lain, misalnya dengan ular, Ular adalah reptil yang tak berkaki dan bertubuh panjang. Ular memiliki sisik seperti kadal dan sama-sama digolongkan ke dalam reptil bersisik (Squamata).
Perbedaannya adalah kadal pada umumnya berkaki, memiliki lubang telinga, dan kelopak mata yang dapat dibuka tutup. Akan tetapi untuk kasus-kasus kadal tak berkaki (misalnya Ophisaurus spp.) perbedaan ini menjadi kabur dan tidak dapat dijadikan pegangan. Ular tidak memiliki daun telinga dan gendang telinga, tidak mempunya keistimewaan ada ketajaman indera mata maupun telinga. Matanya selalu terbuka dan dilapisi selaput tipis sehingga mudah melihat gerakan disekelilingnya, sayangnya ia tidak dapat memfokuskan pandangnnya. Ular baru dapat melihat dengan jelas dalam jarak dekat. Indera yang menjadi andalan ular adalah sisik pada perutnya, yang dapat menangkap getaran langkah manusia atau binatang lainnya. Lubang yang terdapat antara mata dan mulut ular dapat berfungsi sebagai thermosensorik (sensor panas) - organ ini biasa disebut ceruk atau organ Jacobson. Ular juga dapat mengetahui perubahan suhu karena kedatangan mahluk lainnya,
Ular ini memiliki ciri-ciri fisik sebagai berikut : kepalanya berbentuk oval, panjang tubuh dewasa mencapai ukuran sekitar 80 – 160 cm, warna kulitnya loreng hitam putih cerah dengan ukuran yang tidak seragam melingkar membentuk cincin, badan berpenampang bulat, bagian bawah putih polos, kelihatan mencolok di malam hari. Selain memiliki ciri fisik yang khas, ular ini juga memiliki kebiasaan diantaranya : Nocturnal (aktif pada malam hari), tidak agresif di siang hari, cenderung menghindar jika diganggu atau menyembunyikan kepalanya di bawah badannya dengan melingkar, sensitif dengan cahaya dan akan berusaha mendekati. Ular ini memiliki racun yang menyerang sistem syaraf atau biasa kita sebut dengan Neurotoxin. Racun ini memiliki efek yang dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, mual, muntah, sakit pada perut, pendarahan, dan pingsan. Selain itu jika racun menyerang sistem syaraf maka akan mengakibatkan kelumpuhan atau bahkan sampai menyebabkan kematian.

Keuntungan dan Kerugian Ular Bagi Manusia

Keuntungan ular bagi kehidupan manusia :
1)      Konon, dagingnya dapat di konsumsi untuk membangkitkan stamina meski tidak halal, empedu, darah dan daging beberapa jenis ular dianggap sebagai obat berkhasiat tinggi, sebagai pembangkit stamina untuk suami istri terutama di Tiongkok dan daerah Timur lainnya.
2)      Sementara itu kulit beberapa jenis ular memiliki nilai yang tinggi sebagai bahan perhiasan, sepatu, dompet, sabuk dan tas. Seperti halnya biawak, kulit ular (terutama ular sanca, ular karung, dan ular anakonda) yang diperdagangkan di seluruh dunia mencapai ratusan ribu hingga jutaan helai kulit mentah pertahun.
3)      Ular kobra yang amat berbisa dan ular sanca pembelit kerap digunakan dalam pertunjukan-pertunjukan keberanian.
4)      Serta menyeimbangkan  kerusakan habitat dan lingkungan hidupnya. Ular-ular yang berperan dalam mengontrol populasi tikus di sawah dan kebun selain itu ular sangat berperan dalam rantai makanan.
Kerugian ular bagi kehidupan manusia :
Ular ini dapat menyebabkan kematian akibat gigitannya yang mengandung bias yang beracun, banyak kematian yang terjadi akibat gigitan dan lilitan ular terhadap manusia.



BAB V
KESIMPULAN

            Setelah dilakukan pengamatan pada reptil (ular weling) maka dapat ditarik kesimpulan bahwa:
-          Jenis dan bentuk gigi pada ular weling ini yaitu opistoglyph dan solenoglyph
-          Bentuk pupilnya adalah pupil vertical
-          Bentuk rahang bawah/ dagunya yaitu variasi dagu (kiri-atas )- (bawah) Simetrical chin
-          Bentuk subcaudal (sisik ekornya) yaitu bawah undivided subcaudal
-          Sedangkan posisi nostrilnya kiri nostril dibagian sisi tubuh.




DAFTAR PUSTAKA

Campbell.Neil  A.1999. Biologi edisi kelima jilid 2.  Erlangga : Jakarta.
Jasin, M. 1992. Zoologi Vertebrata Untuk Perguruan Tinggi. Sinar Jaya. : Surabaya
Kimball, J,W. 1992. Biologi edisi kelima jilid 3.  Erlangga : Jakarta.
Mukayat, Djarubito. 1989.Zoologi Dasar.  Erlangga : Jakarta.